JAKARTA – Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjadi persoalan kesehatan berskala nasional. Data Kementerian Kesehatan per 21 Agustus 2026 menunjukkan sekitar 3 juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap.
Karhutla tercatat menyebar di 87 kabupaten/kota pada tujuh provinsi, termasuk Kalimantan Tengah.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat di wilayah terdampak mengurangi paparan asap, terutama terhadap partikel halus PM2,5.
“Yang pertama untuk karhutla, banyak partikel-partikel, istilahnya PM2.5,” kata Budi dalam keterangan resmi, Minggu (23/8/2026).
Ia menjelaskan partikel tersebut dapat masuk jauh ke sistem pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
“Itu sangat mengganggu paru-paru kita, pernapasan kita,” ujar Budi.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap kabut asap hanya sebagai gangguan jarak pandang.
Paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Kelompok dengan kondisi pernapasan tertentu juga lebih rentan mengalami perburukan.
Budi mengingatkan masyarakat agar memakai masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Kementerian Kesehatan juga telah mengerahkan 314 tenaga medis untuk membantu wilayah terdampak. Di Kalimantan Tengah, laporan kasus ISPA dalam periode tertentu meningkat dari 402 menjadi 716 kasus atau sekitar 78,1 persen.
Bagi masyarakat, langkah perlindungan paling sederhana adalah mengurangi aktivitas luar ruangan ketika asap pekat, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai, serta segera mencari pertolongan medis jika muncul keluhan seperti sesak napas atau gangguan pernapasan.
Persoalan karhutla dengan demikian tidak lagi sekadar persoalan lingkungan. Ketika asap menyebar lintas wilayah, dampaknya langsung masuk ke ruang paling personal: paru-paru manusia.(DN/*)

Komentar