PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memperkuat operasi udara untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Gubernur Kalteng Agustiar Sabran meminta armada water bombing digunakan secara maksimal untuk mengejar titik api yang sulit dijangkau dari darat.
“ Kekuatan yang kita miliki harus dimaksimalkan. Untuk titik-titik yang sulit dijangkau melalui darat, operasi water bombing harus dioptimalkan agar pemadaman bisa dilakukan lebih cepat,” tegas Agustiar di Palangka Raya.
Dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalteng, dilaporkan masih terdapat 15 titik kebakaran yang belum berhasil dipadamkan. Sebanyak 10 titik yang sebelumnya menjadi lokasi terparah disebut telah berhasil ditangani.
Untuk operasi udara, pemerintah mengerahkan lima helikopter water bombing. Tiga unit masih aktif, sedangkan dua lainnya menjalani perawatan atau menunggu suku cadang.
Agustiar menekankan penggunaan armada udara harus berdasarkan prioritas.
“Kita harus melihat titik mana yang paling membutuhkan intervensi dari udara. Jangan sampai sumber daya yang ada tidak dimanfaatkan secara optimal. Semua harus diarahkan untuk mempercepat pemadaman,” ujarnya.
Data yang dilaporkan pemerintah menunjukkan terdapat 38.916 titik panas di Kalteng. Luas lahan terbakar berdasarkan laporan daerah mencapai 60.028,77 hektare, sedangkan berdasarkan pantauan Sipongi tercatat 7.634,46 hektare. Jumlah kejadian karhutla mencapai 2.090.
Penanganan melibatkan 7.208 personel gabungan dan ditargetkan ditingkatkan hingga 10.700 personel. Pemerintah juga melanjutkan Teknologi Modifikasi Cuaca pada periode 26 Agustus hingga 2 September 2026.
“Water bombing bukan berdiri sendiri. Harus terintegrasi dengan tim di darat. Setelah api ditekan dari udara, pasukan di lapangan harus memastikan titik tersebut benar-benar aman dan tidak muncul kembali,” kata Agustiar.(fit/*)

Komentar