Advertisement
Kalimantan Tengah
Beranda / Kalimantan Tengah / Sekolah Kalteng Didorong Ubah Sampah Plastik Jadi Energi

Sekolah Kalteng Didorong Ubah Sampah Plastik Jadi Energi

Kadisdik Kalteng Muhammad Reza Prabowo.

BUNTOK – Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah mendorong sekolah mengembangkan usaha produktif sekaligus mengolah persoalan lingkungan menjadi bagian dari pembelajaran. Salah satu gagasan yang sedang diuji adalah mengubah sampah plastik menjadi sumber energi melalui proyek percontohan di salah satu SMK di Kalteng.

Kepala Dinas Pendidikan Kalteng Muhammad Reza Prabowo mengatakan sekolah diharapkan tidak hanya bergantung pada pembiayaan pemerintah, tetapi mampu mengembangkan unit usaha yang sesuai dengan potensi dan keterampilan yang dimiliki.

“Saya ingin sekolah mandiri, punya usaha dan bisa membiayai operasional sekolah,”ujarnya.

Dalam proyek yang sedang diuji, sampah plastik diarahkan untuk diolah menjadi gas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk kebutuhan memasak. Dinas Pendidikan menyebut proyek itu masih berada pada tahap pilot project, sehingga efektivitas dan keberlanjutannya masih perlu dibuktikan.

Konsep tersebut menempatkan persoalan sampah bukan sekadar sebagai masalah kebersihan, tetapi juga sebagai bahan pembelajaran vokasi dan inovasi teknologi.

25,93 Gram Sabu Disita, Dua Orang Diamankan di Rakumpit

“Misalnya mengubah sampah plastik menjadi gas untuk menghidupkan api seperti tabung gas. Sekarang kita coba di salah satu SMK sebagai pilot project. Kami ingin memastikan teknologi yang digunakan benar-benar aman, dapat dipelajari siswa, dan memiliki manfaat nyata bagi pengelolaan sampah di lingkungan sekolah,” harap Kadis.

Namun, gagasan mengubah plastik menjadi energi membutuhkan pengujian teknis dan lingkungan yang memadai. Manfaatnya tidak cukup dinilai dari kemampuan menghasilkan energi, tetapi juga dari pengendalian emisi, keamanan proses, serta pengelolaan residu.

“Pemanfaatan sampah sebagai sumber energi perlu disertai standar keselamatan dan pengendalian emisi agar solusi lingkungan tidak menghasilkan persoalan baru.”

Reza mengatakan SMK memiliki posisi strategis karena pembelajaran vokasi memungkinkan siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mengembangkan produk dan jasa yang memiliki nilai ekonomi.

“Tahap berikutnya adalah melihat apakah inovasi ini bisa direplikasi di sekolah lain setelah aspek teknis, keselamatan, dan manfaatnya benar-benar terukur,” pungkasnya.

Pelajar Sampit Raih Medali Perunggu OSN Biologi Nasional

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *