PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah mulai memberi tekanan nyata terhadap layanan kesehatan. Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di provinsi ini melonjak 78,1 persen dalam sepekan, mendorong Kementerian Kesehatan mengerahkan tenaga medis dan logistik kesehatan ke wilayah terdampak.
Data Kementerian Kesehatan per Senin, 24 Agustus 2026 menunjukkan kasus ISPA di Kalimantan Tengah meningkat dari 402 kasus menjadi 716 kasus dalam satu pekan.
Kenaikan tersebut terjadi ketika karhutla melanda sejumlah wilayah di tengah musim kemarau panjang. Secara nasional, lebih dari tiga juta warga di 37 kabupaten/kota disebut terpapar langsung kabut asap akibat karhutla di tujuh provinsi.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Agus Jamaludin mengatakan pemerintah tidak menunggu gangguan kesehatan berkembang menjadi krisis yang lebih besar.
“Sebagai upaya mitigasi kesehatan akibat karhutla, kami telah memobilisasi sejumlah 314 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” terang Agus.
Ratusan tenaga kesehatan tersebut disiapkan untuk memperkuat respons kesehatan di wilayah yang mengalami dampak asap. Kemenkes juga mengirimkan ratusan ribu perlengkapan kesehatan.
Logistik yang telah didistribusikan meliputi 278.940 masker, 56 unit oxygen concentrator, 40 face shield, 1.000 pasang sarung tangan medis, 36 tabung Oxycan, delapan set APD, 33 dus pemberian makanan tambahan, serta obat-obatan dan vitamin.
Kemenkes mencatat karhutla telah berdampak terhadap tujuh provinsi, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Enam provinsi di antaranya telah menetapkan status siaga darurat bencana seiring kemarau panjang yang berlangsung sejak awal 2026.
Di Kalteng, tekanan kesehatan tidak hanya berasal dari ISPA. Paparan asap juga dapat memicu atau memperburuk gangguan pernapasan lain, termasuk asma dan iritasi.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengingatkan masyarakat agar memahami risiko partikel halus yang terkandung dalam asap karhutla.
“Banyak partikel-partikel, istilahnya PM2.5. Itu banyak bertebaran di udara dan itu sangat mengganggu paru-paru kita, pernapasan kita, banyak penyakit pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA,” kata Budi.
Peringatan tersebut menempatkan kabut asap bukan semata persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan kesehatan masyarakat.
Respons kesehatan juga diperkuat di sejumlah titik rawan di Kalimantan Tengah.
Pemerintah telah menyiapkan pos kesehatan dan ruang oksigen di Barito Utara, Barito Timur, dan Kota Palangka Raya. Fasilitas tersebut diarahkan untuk memberikan pertolongan kepada warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Kemenkes mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak agar membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker, memantau kualitas udara, menjaga pola hidup bersih dan sehat, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan jika muncul gangguan pernapasan.
“Sebagai upaya mitigasi kesehatan akibat karhutla,” kata Agus, mobilisasi tenaga kesehatan dilakukan dengan konsentrasi utama di Kalteng dan Kalsel.
Sementara itu, pemerintah memperkirakan puncak musim kemarau masih berlangsung hingga September 2026. Artinya, tekanan terhadap kualitas udara dan layanan kesehatan belum dapat dianggap selesai.
Dengan demikian, penanganan karhutla di Kalteng kini memiliki dua medan sekaligus: memadamkan api di lapangan dan mencegah asap mengubah fasilitas kesehatan menjadi garis pertahanan terakhir masyarakat.(fit/*)

Komentar