Berdasarkan TPT Agustus 2022, Pengangguran Lebih Didominasi Perempuan 

 Berdasarkan TPT Agustus 2022, Pengangguran Lebih Didominasi Perempuan 

RELEASE BRS : Statisi Ahli Madya Dr. Ambar Dwi Santoso, S.Si., M.Si (kanan) dan Statisi Ahli Madya Gatot Rusdyanto (kiri) saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS) Agustus 2022. Kegiatan berlangsung di ruang Vicon BPS Kalteng, Senin (7/11/2022).

Kaltengnews.co.id – PALANGKA RAYA – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah, Eko Marsoro melalui Statisi Ahli Madya Dr. Ambar Dwi Santoso, S.Si., M.Si menyampaikan Berita Resmi (BRS) terkait Ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah pada Agustus 2022, dimana berdasarkan diferensiasi gender, tingkat pengangguran lebih didominasi oleh kaum perempuan ketimbang kaum laki-laki.

Dimana, angka pengangguran perempuan tersebut dilihat dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2022 di Kalimantan Tengah, yakni TPT laki-laki ada sebesar 3,95 persen, lebih rendah dibanding TPT perempuan sebesar 4,86 persen.

Kondisi TPT laki-laki mengalami penurunan sebesar 0,45 persen poin dibandingkan dengan keadaan Agustus 2021. Sebaliknya, TPT perempuan naik 0,10 persen poin dibandingkan keadaan Agustus 2021.

“Artinya, pengangguran lebih didominasi oleh kaum perempuan, karena TPT perempuan lebih tinggi bila dibandingkan dengan TPT laki-laki,” jelasnya, Senin (7/11/2022).

Lanjut Dr. Ambar menjelaskan melalui contoh penghitungan TPT, misalnya ada 100 orang perempuan melamar suatu pekerjaan, kemudian diterima hanya 98 orang saja, jadi Tingkat Pengangguran Terbuka perempuan menjadi 2 persen.

Sementara, 500 orang laki-laki melamar suatu pekerjaan, kemudian diterima hanya 498 orang saja, jadi Tingkat Pengangguran Terbuka laki-laki menjadi 0,4 persen.

Penghitungan TPT berbeda, karena harus dilihat sebagai angka relatif. Maksudnya, bukan dilihat dari jumlah orang yang menganggur berdasarkan jumlah person/orangnya, akan tetapi dilihat dari persentasenya.

Maksudnya, yang dilihat itu persentase dari total jumlah pelamar, terhadap jumlah yang tidak diterima pada suatu lowongan pekerjaan.

“Ya, semoga saja cara penghitungan ini bisa dipahami,” timpalnya.

Kembali Dirinya menjelaskan adapun alasan lain, terkait angka pengangguran lebih didominasi oleh kaum perempuan, yakni lapangan pekerjaan di sektor formal, khususnya di wilayah perkotaan yang tersedia memiliki preferensi atau kecenderungan lebih terbuka untuk kaum laki-laki, seperti di sektor pertanian, perkebunan, pertambangan dan perikanan.

“Maksudnya, lapangan pekerjaan formal yang ada di wilayah perkotaan, lebih menuntut kemampuan dan tantangan tugas/pekerjaan di lapangan yang lebih diperuntukkan bagi kaum laki-laki, untuk bisa menempati posisi lowongan pekerjaan yang ada. Misalnya, sebagai pekerja perkebunan sawit, pekerja di pertambangan dan lain sebagainya. Begitupun di wilayah pedesaan kondisinya pun tidak jauh berbeda”

“Sementara, untuk kaum perempuan di wilayah perkotaan cenderung kepada sektor informal, seperti berwirausaha atau menjadi pelaku usaha kreatif ataupun usaha micro kecil dan menengah (UMKM),” ujarnya kembali menjelaskan.

Dr. Ambar mengatakan adanya kondisi demikian, sehingga khususnya kaum perempuan di wilayah perkotaan, lebih memilih bekerja di sektor informal, seperti menjalani usaha rumahan atau UMKM.

“Namun, disayangkan untuk melihat kondisi ketenagakerjaan pada suatu daerah, saat ini usaha rumahan atau UMKM masih belum spesifik disebut sebagai suatu pekerjaan, sehingga masih belum terdata,” ungkapnya.

Ia juga berharap kedepan para pekerja rumahan atau UMKM juga bisa didata. Sehingga, bisa memberikan gambaran utuh kondisi ketenagakerjaan di suatu daerah, terlebih khususnya di wilayah Kalimantan Tengah ini. (YS)

TONTON JUGA BERITA VISUAL LAINNYA di 

KALTENGNEWS TV 

Yundhy Satrya ^ Kaltengnews.co.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *