BUNTOK – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, telah mencapai 1.301,99 hektare sejak Januari hingga 16 Oktober 2026. Di tengah meluasnya kebakaran, dinas kesehatan setempat juga melaporkan tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan dua kematian akibat pneumonia yang diduga berkaitan dengan paparan kabut asap.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Selatan menunjukkan kebakaran tersebar di enam kecamatan. Kecamatan Dusun Selatan menjadi wilayah terdampak terbesar, dengan 170 kejadian yang menghanguskan 830,88 hektare lahan.
Kecamatan Dusun Hilir mencatat 165,71 hektare lahan terbakar, Karau Kuala 133,36 hektare, Jenamas 82,54 hektare, Dusun Utara 74 hektare, dan Gunung Bintang Awai 15,50 hektare.
Kepala BPBD Barito Selatan Agus In’Yulius menyebut sebagian besar lahan yang terbakar merupakan kawasan dengan vegetasi gambut.
“Dominan terjadi pada kawasan lahan dengan vegetasi gambut,” kata Agus pada Minggu 18 Oktober 2026.
Data BPBD mencatat luas lahan terbakar pada Juli 2026 mencapai 49,35 hektare. Angka tersebut meningkat menjadi 480,11 hektare pada Agustus dan 538,90 hektare pada September. Hingga 16 Oktober, luas kebakaran selama bulan berjalan telah mencapai 216,525 hektare.
BPBD juga merujuk data Sipongi+ yang mencatat 9.576 titik panas di Barito Selatan sejak Januari hingga waktu pelaporan. Titik panas merupakan indikator pemantauan kebakaran dan tidak serta-merta berarti setiap deteksi merupakan satu kejadian kebakaran yang telah terkonfirmasi di lapangan.
“Pemerintah Kabupaten Barito Selatan telah memberlakukan status tanggap darurat bencana karhutla dan kekeringan ekstrem sejak 5 Agustus 2026. Status tersebut diperpanjang untuk ketiga kalinya hingga 2 November 2026 dan akan dievaluasi mengikuti perkembangan situasi,” bebernya.
Agus menegaskan, penanganan kebakaran tidak bisa hanya mengandalkan petugas yang tergabung dalam posko atau satuan tugas. Pencegahan dan pemadaman memerlukan dukungan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan pemangku kepentingan di sekitar wilayah rawan kebakaran.
Dampak kebakaran juga menjadi perhatian sektor kesehatan. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Barito Selatan, dr. Dadang Baskoro Nugroho, pada Jumat (16/10) menyampaikan bahwa seorang bayi perempuan berusia 6 bulan 10 hari dan seorang aparatur sipil negara (ASN) berusia 40 tahun meninggal pada Oktober setelah didiagnosis pneumonia.
Keduanya disebut mengalami kondisi kesehatan yang dikaitkan oleh Dinas Kesehatan dengan situasi kabut asap dalam beberapa bulan terakhir. Namun, dugaan keterkaitan tersebut perlu dibedakan dari diagnosis pneumonia yang disampaikan pemerintah daerah. Informasi yang dipublikasikan belum cukup untuk memastikan bahwa paparan asap merupakan penyebab langsung kedua kematian tersebut.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, dan rontgen memang terkena penyakit pneumonia,” kata Dadang.
Menurut keterangan Dadang, kematian warga yang didiagnosis pneumonia tercatat sebanyak tiga orang pada Agustus, dua orang pada September, dan dua orang pada Oktober 2026.
Data dari 12 puskesmas di enam kecamatan juga mencatat 953 kasus ISPA pada Juli, meningkat menjadi 1.295 kasus pada Agustus, lalu 1.143 kasus pada September. Sejak awal Oktober hingga waktu pelaporan, tercatat 655 kasus. Angka Oktober tersebut masih bersifat sementara karena bulan berjalan belum berakhir.
Dadang mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Ia juga mengingatkan warga agar memperhatikan kondisi kesehatan, terutama ketika mengalami gejala yang berkembang menjadi sesak napas.
Dengan luas kebakaran yang telah melampaui 1.300 hektare dan kasus gangguan pernapasan yang tetap tinggi, perkembangan karhutla di Barito Selatan perlu dipantau tidak hanya dari luas lahan terbakar, tetapi juga dari kondisi kualitas udara, pelayanan kesehatan, dan perlindungan kelompok rentan.
Pemerintah daerah masih memiliki waktu hingga akhir masa tanggap darurat untuk mengevaluasi efektivitas penanganan dan pencegahan kebakaran.(aya/*)

Komentar