PALANGKA RAYA – Prof. Bhayu Rhama resmi memimpin Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026–2030 setelah dilantik pada Senin (5/10/2026).
Awal masa jabatannya tidak langsung diarahkan pada proyek besar atau target reputasi. Bhayu memilih pekerjaan yang lebih mendasar; memastikan persoalan sehari-hari yang mengganggu kegiatan akademik segera dibenahi.
Fokus tersebut ditempatkan dalam agenda 100 hari pertama kepemimpinannya.
Bagi rektor baru, fondasi kualitas pendidikan bermula dari hal yang sederhana tetapi menentukan; ruang belajar yang layak, listrik yang tersedia, pendingin ruangan yang berfungsi, serta fasilitas dasar yang membuat mahasiswa dan dosen dapat menjalankan kegiatan akademik dengan nyaman.
Bhayu membawa visi UPR Berbakat dan Bereputasi sebagai arah jangka panjang universitas. Namun, visi itu tidak akan banyak berarti jika fondasi kegiatan belajar masih menghadapi persoalan mendasar.
“Seratus hari pertama akan kami gunakan untuk menjalankan visi dan misi sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan dasar yang langsung dirasakan sivitas akademika,” papar Bhayu. Selasa (6/10/2026).
Perhatian pertama diarahkan pada fasilitas ruang belajar. Bhayu menempatkan standar ruang kelas sebagai salah satu fondasi agar kegiatan pendidikan dapat berlangsung dengan nyaman dan tidak terganggu persoalan fasilitas.
“Ketersediaan listrik dan pendingin ruangan menjadi bagian dari kebutuhan dasar yang harus dipastikan agar standar ruang belajar dapat terpenuhi dan mahasiswa bisa belajar dengan nyaman,” sebutnya.
Persoalan fasilitas itu tidak berdiri sendiri. Ruang kelas yang nyaman juga berkaitan dengan kemampuan kampus menjaga mahasiswa dan tenaga pendidik tetap memiliki ruang yang mendukung kegiatan akademik, penelitian, serta pengabdian.
Karena itu, agenda Bhayu tidak berhenti pada pembenahan fisik. Ia juga ingin menyatukan seluruh elemen kampus, termasuk pihak-pihak yang sebelumnya berkompetisi dalam pemilihan rektor.
“Setelah proses pemilihan selesai, seluruh elemen UPR harus kembali menjadi satu keluarga dan berkolaborasi membangun universitas sebagai rumah bersama,” ajaknya.
Di titik ini, visi UPR Berbakat dan Bereputasi menjadi tantangan berikutnya. Menaikkan mutu dan reputasi universitas membutuhkan proses yang terstruktur, bukan sekadar perubahan kepemimpinan.
“UPR Berbakat dan Bereputasi akan dibangun secara bertahap melalui pembenahan fondasi, penguatan mutu, inovasi, dan kolaborasi seluruh sivitas akademika,” ucap Bhayu.
Ia juga membawa gagasan kepemimpinan yang adaptif dan kolaboratif untuk memperkuat ekosistem pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang inklusif.
Dengan pelantikan pada 5 Oktober, agenda tersebut resmi memasuki masa kerja. Seratus hari pertama kini menjadi fase paling konkret untuk melihat apakah daftar persoalan dasar yang selama ini disebut dapat berubah menjadi pekerjaan yang benar-benar selesai.(iya/*)

Komentar