Advertisement
Headline Kapuas
Beranda / Kapuas / Karhutla Kapuas Bakar 2.729 Hektare, Peralatan Pemadaman Terbatas

Karhutla Kapuas Bakar 2.729 Hektare, Peralatan Pemadaman Terbatas

Petugas bersama warga menangani karhutla di wilayah terdampak kekeringan.

KUALA KAPUAS – Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kapuas telah membakar 2.729,52 hektare sepanjang Januari hingga 24 September 2026, sementara petugas di lapangan masih menghadapi keterbatasan mesin pompa, selang dan akses menuju sumber air. Kondisi itu menjadi fokus evaluasi penanganan pada Jumat, 25 September 2026.

Data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla Kabupaten Kapuas mencatat 318 kejadian karhutla hingga 24 September. Pemantauan sepanjang periode yang sama juga mencatat 27.580 hotspot.

Dalam dua hari terakhir, kebakaran masih dilaporkan terjadi di sejumlah kecamatan. Pada 23 September tercatat 10 kejadian yang tersebar di delapan kecamatan. Angka itu meningkat menjadi 16 kejadian pada 24 September, juga di delapan kecamatan.

Kepala Pelaksana BPBD Kapuas Pangeran S. Pandingan mengatakan hasil evaluasi menunjukkan persoalan logistik pemadaman masih menjadi hambatan di sejumlah lokasi.

“Berdasarkan dari hasil rapat evaluasi kita tadi, di sejumlah wilayah petugas melaporkan bahwa di lapangan menghadapi kendala keterbatasan peralatan pemadaman, terutama mesin pompa dan selang,” ungkapnya.

25,93 Gram Sabu Disita, Dua Orang Diamankan di Rakumpit

Keterbatasan tersebut dilaporkan terjadi di hampir seluruh wilayah kecamatan yang masih melakukan penanganan karhutla. Kerusakan atau kebocoran selang menjadi salah satu kendala yang banyak ditemukan, antara lain di Kapuas Barat, Kapuas Hilir dan Mantangai.

Di Mantangai, petugas mengusulkan tambahan tiga unit mesin pompa berukuran 6,5 inci serta 15 roll selang pelempar. Pos di Kapuas Barat membutuhkan tambahan dua mesin pompa dan 10 roll selang.

Masalah lain muncul di Basarang. Sejumlah lokasi tidak mudah dijangkau kendaraan besar sehingga mobil tangki tidak dapat masuk untuk memasok air. Di Dadahup, saluran sekunder mulai mengering sehingga sumber air untuk pemadaman semakin terbatas.

Di sisi pasokan, BPBD Kapuas disebut telah melakukan pemesanan peralatan sekitar 10 hari, tetapi kebutuhan belum seluruhnya tiba.

“Evaluasi harian akan terus dilakukan untuk memantau perkembangan karhutla, kondisi hotspot, dampak terhadap kesehatan masyarakat, serta efektivitas penanganan di masing-masing wilayah,” katanya.

Sekolah Kalteng Didorong Ubah Sampah Plastik Jadi Energi

Pemerintah Kabupaten Kapuas melibatkan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, pemadam kebakaran, pemerintah kecamatan dan desa, serta masyarakat dalam penanganan. Pemantauan titik panas juga terus dilakukan untuk memastikan indikasi kebakaran segera ditindaklanjuti.

Perhatian tidak hanya tertuju pada luasan lahan terbakar. Data kesehatan terbaru menunjukkan 2.465 kasus ISPA tercatat di Kapuas sejak 16 Agustus sampai 24 September 2026. Dalam periode 20–24 September saja terdapat 362 kasus, atau rata-rata sekitar 72 kasus per hari.

Pada 24 September bahkan tercatat 92 kasus ISPA baru dalam satu hari dari seluruh 17 kecamatan. Kecamatan Selat mencatat kasus tertinggi dengan 624 kasus.

Dengan penambahan peralatan yang dijadwalkan tiba pada Sabtu, 26 September, persoalan berikutnya adalah seberapa cepat kapasitas pemadaman di lapangan dapat diperkuat untuk menjangkau lokasi yang sulit mendapat pasokan air.(fit/*)

Pelajar Sampit Raih Medali Perunggu OSN Biologi Nasional

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *