PALANGKA RAYA – Kalimantan Tengah kembali menjadi wilayah dengan jumlah hotspot high confidence tertinggi di antara enam provinsi prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), setelah terdeteksi 261 titik pada Kamis, 24 September 2026 pukul 21.15 WIB. Pemerintah kini menyiagakan puluhan armada udara untuk memperkuat patroli, pemadaman dan operasi modifikasi cuaca.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan hotspot high confidence nasional mencapai 575 titik. Dari enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah mencatat 261 titik, naik dari 156 titik pada hari sebelumnya.
Kementerian Kehutanan menegaskan angka hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kebakaran maupun luas lahan terbakar. Satu kejadian dapat menghasilkan lebih dari satu hotspot sehingga setiap indikasi tetap memerlukan verifikasi lapangan.
Pada saat bersamaan, pemerintah mengerahkan 61 armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta 44 unit untuk water bombing. Pengoperasian armada disesuaikan dengan perkembangan titik api, potensi awan, arah angin, kondisi asap, jarak pandang dan keselamatan penerbangan.
Di tingkat provinsi, data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla per 23 September mencatat 4.168 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar 13.960,96 hektare. Sebanyak 14.043 personel gabungan dikerahkan dalam penanganan di Kalteng.
Kepala Dinas Kehutanan Kalteng Agustan Saining mengatakan strategi penanganan tidak hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul.
“Upaya tersebut kami lakukan melalui peningkatan patroli, pembasahan lahan, hingga penguatan koordinasi lintas sektor terutama memperkuat penegakan hukum terhadap aktivitas yang berpotensi menyebabkan karhutla,” bebernya.
Menurut Agustan, karakteristik lahan gambut membuat pencegahan dan penanganan membutuhkan pendekatan khusus, termasuk memastikan sekat kanal tetap berfungsi.
“Evaluasi dan penguatan langkah pencegahan diperlukan karena sebagian besar wilayah Kalteng memiliki karakteristik lahan gambut yang membutuhkan penanganan khusus,” kata Agustan.
Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan juga menekankan persoalan bara di bawah permukaan gambut. Menurut dia, padamnya api yang terlihat dari atas belum otomatis menghilangkan sumber asap.
“Walaupun api di atas sudah padam, masih ada api-api yang ada di bawah dan itu cukup banyak menghasilkan asap yang bisa berdampak kurang baik untuk kesehatan dan juga situasi lingkungan,” terang Kapolda.
Polda Kalteng bersama Satgas Karhutla melakukan pemantauan serta pembasahan di lokasi yang dinilai masih berpotensi menghasilkan asap.
“Intinya, Satgas yang sudah dibentuk di Provinsi Kalimantan Tengah ini bekerja bersama, bersinergi, berkolaborasi, dan sudah dibagi semua tugas-tugasnya, dan bekerja selama 24 jam,” pungkasnya.(fit/*)

Komentar