Advertisement
Kotawaringin Timur
Beranda / Kotawaringin Timur / Salinitas Naik, Air Sungai Sampit Hanya untuk MCK

Salinitas Naik, Air Sungai Sampit Hanya untuk MCK

Sumber air Sungai Sampit di wilayah selatan Kotawaringin Timur menjadi objek pemeriksaan kualitas akibat kenaikan salinitas.

 

SAMPIT – Kadar salinitas sumber air Sungai Sampit di kawasan Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur, telah mencapai lebih dari 630 sehingga air tersebut tidak dapat digunakan sebagai sumber air minum.

Kondisi itu menjadi persoalan baru di tengah kemarau panjang. Perumdam Tirta Mentaya menyebut air masih dapat diproduksi untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus, tetapi bukan untuk konsumsi.

“Untuk wilayah selatan, Sungai Sampit bukan kekeringan, tetapi salinitas airnya, kadar garamnya terlalu tinggi. Kami bisa produksi, tetapi hanya diperuntukkan MCK, bukan minum,” kata Direktur Perumdam Tirta Mentaya Kotim Ismanadi. Minggu (20/9/2026).

Pemeriksaan dilakukan secara berkala untuk memastikan kualitas sumber air. Hasil pemeriksaan internal kemudian dikonfirmasi melalui Laboratorium Kesehatan Daerah Kotawaringin Timur.

Kotim Siapkan Aturan Sumur Bor dan Hidran untuk Perumahan

Hasil pengukuran menunjukkan kawasan Bagendang telah mengalami peningkatan salinitas yang signifikan.

“Yang di Bagendang salinitasnya mencapai 630. Itu sudah masuk kategori sangat tidak layak untuk dikonsumsi,” ujar Ismanadi.

Kondisi tersebut membedakan persoalan air di wilayah selatan Kotim dari sekadar kekeringan. Sumber air masih tersedia, tetapi kualitasnya telah berubah sehingga penggunaannya harus dibatasi.

“Pembatasan penggunaan air dilakukan untuk mencegah masyarakat menggunakan sumber air dengan kadar garam tinggi sebagai air minum selama kondisi salinitas belum kembali memenuhi persyaratan,” ujarnya.

Perubahan kualitas air juga berpotensi meningkatkan kebutuhan distribusi air bersih apabila kondisi berlangsung lebih lama. Ia mengaku, pihaknya juga menyiapkan langkah layanan alternatif untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat yang tidak dapat menggunakan sumber air setempat sebagai air minum.

861 Kebakaran Terjadi di Seruyan, Sumur Warga Mulai Mengering

“Masyarakat perlu mengikuti informasi kualitas air dari penyedia layanan dan tidak menggunakan sumber dengan salinitas tinggi sebagai air minum,” pungkasnya.

Pemeriksaan laboratorium menjadi dasar penting sebelum air digunakan untuk konsumsi rumah tangga. Pemantauan kadar salinitas akan menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan layanan air bersih di wilayah selatan Kotim selama musim kemarau. (SM*/)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *