FOTO : ANGGRA DWINIVO
MULAI DITINGGALKAN : Dimasa tuanya, sosok Budiono Okek Manjat masih berjuang melestarikan Kacapi. Meskipun di satu sisi, alat musik ini mulai ditinggalkan para peminatnya.
Penulis : ANGGRA DWINIVO
Alat musik tradisional ini mungkin sudah familiar di telinga anda. Ditiap daerah, kecapi mempunyai nama dan karakternya masing-masing. Di Provinsi Kalimantan Selatan misalnya, warga lokal biasa menyebutnya sebagai Panting, atau Sape bagi masyarakat Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Sedangkan di Provinsi Kalimantan Tengah, lebih dikenal sebagai Kacapi.
Kini, peran alat musik berdawai dua atau tiga itu, lambat laun mulai tergantikan dengan pesatnya kemajuan teknologi. Orang dengan mudahnya memadupadankan suara khas kacapi dengan menggunakan keyboard atau organ. Selain praktis, alat musik canggih ini juga sanggup menampung banyak suara dari berbagai jenis alat musik sekaligus. Sehingga berpengaruh besar terhadap keberlangsungan hidup para seniman alat musik bernada minor saat ini.
Kendati demikian, asa untuk terus melestarikan alat musik tradisional itu masih menggelora dalam sanubari Budiono Okek Manjat. Sosok pria kelahiran 12 September 1962 silam ini, memang dikenal piawai memainkan kacapi. Bukan itu saja, putra kelahiran Desa Tewang Baringin Kecamatan Tewang Sangalang Garing, Kabupaten Katingan 55 tahun silam ini juga menguasai berbagai alat musik tradisional lain. Seperti gong, gandang, garantung, rebab, suling, dan lain sebagainya.
Kepada wartawan, warga yang kini berdomisili di Desa Tumbang Liting Kecamatan Katingan Hilir ini mengakui, jika kemampuan tersebut dipelajarinya secara otodidak.
“Sejak kecil saya memang terbiasa dengan lingkungan alat-alat musik tradisional. Sebab almarhum bapak saya Ukek Manjar Rawing, juga seorang seniman karungut pada zamannya. Mungkin, keterampilan itu menurun kepada saya secara tidak langsung,” ungkapnya.
Meskipun bermain musik tak lagi menjadi sumber penghasilan utamanya, namun Budiono masih membuka diri bagi siapa saja yang hendak menggunakan jasanya. Baik dalam upacara adat pernikahan, hingga menjadi pemusik dalam berbagai ajang lomba seni dan budaya.
“Kalau ada yang datang, saya tidak pernah mematok harga apapun, karena semata-mata ingin membantu dan melestarikan kebudayaan ini. Biasanya tampil sendiri, kadang juga dibantu pemain lain. Walaupun nada yang dihasilkan tidaklah seindah alat musik aslinya,” ujar Budiono.
Kacapi sering dikolaborasikan dengan alat musik tradisional lain. Perpaduan beberapa jenis alat musik ini, makin menambah harmonisasi. Biasanya, dilakukan saat mengadakan pagelaran Sanda Kayau (seni berpantun), Karungut (seni bersyair/gurindam), maupun saat mengiring tari-tarian daerah.
“Saya juga sering diajak main di Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta, beberapa kali di Pulau Jawa dan Sumatera. Kalau di sini, biasanya masyarakat mulai Kecamatan Tewang Sangalang Garing hingga ke Desa Tumbang Atei Kecamatan Katingan Tengah yang minta. Sedangkan warga di wilayah selatan kurang berminat,” katanya.
Budiono mulai memutuskan menjadi seniman sejak tahun 1993 lalu. Sesudah beberapa lama berkolaborasi bersama seniman karungut kenamaan di Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur yaitu Suryadi Tite. Semenjak saat itu, Suyadi Tite yang juga masih terpaut keluarga dengannya tersebut mulai mengajak Budiono masuk ke dalam lingkungan BP7. Atau singkatan resmi dari nama Badan Pembina, Pendidikan, Pelaksanaan, Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila milik pemerintah di era orde baru.
“Jadi kami berdua, khusus ditugaskan untuk mengembangkan lebih jauh seni dan budaya karungut yang kami kuasai. Untuk kemudian menjalankan program-program dari BP7 tersebut,” katanya.
Tugas mereka berdua tak main-main, yaitu mensosialisasikan paham atau nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan lain sebagainya melalui seni karungut. Sasarannya merupakan masyarakat lokal yang tinggal di seluruh penjuru Katingan. Sebab kala itu, pendekatan melalui seni khas suku Dayak ini masih sangat dihargai dan diminati. Sehingga membuat masyarakat lebih bersimpati, serta lebih mudah memahami terhadap isi pesan-pesan yang terkandung dalam program BP7 tersebut.
“Karena pada saat itu, tidak semua orang kita (Dayak) yang mengerti bahasa Indonesia. Sehingga kami berdua harus memutar otak dalam memadukan antara seni karungut dengan pesan yang akan disampaikan,” sebutnya.
Selain itu, mereka berdua juga tak jarang memanfaatkan kesenian khas Katingan lainnya, yaitu Sanda Kayau atau Menandak saat melaksanakan pagelaran. Seni kebudayaan ini juga membutuhkan musik pengiring tradisional, seperti gandang garantung, kacapi, suling, dan lain sebagainya.
“Sanda Kayau lebih menarik, karena sifatnya seni bertutur atau berbalas pantun. Yang dalam setiap liriknya mengandung pesan atau makna tertentu yang akan disampaikan kepada masyarakat. Liriknya tidak kaku, jadi lebih disesuaikan dengan permintaan dan kebutuhan,” tuturnya.
Selain menguasai seni musik Karungut, dirinya juga piawai dalam seni olah suara Badudui atau Badulai. Masyarakat Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur akrab menyebutnya seni Tingkilan.
“Sampai saat ini saya sudah menyelesaikan empat album musik daerah. Semuanya merupakan aransemen sendiri menggunakan alat musik kacapi, rebab, suling, kenung, kendang, gong, maupun gandang garantung. Sebenarnya masih banyak lagi, karena belum ada kesempatan dan biaya,” bebernya.
Tidak hanya piawai memainkan alat musik saja, Budiono juga dikenal sebagai seniman pembuat Kacapi berkualitas tinggi. Walaupun dengan segala keterbatasan ekonominya, Budiono tetap mengutamakan kualitas produk ketimbang segi bisnis.
“Saya hanya membuat kecapi apabila ada pesanan saja. Kalau tidak salah, ada sekitar 40 buah Kacapi yang saya bikin, pembelinya kebanyakan dari Kota Palangka Raya, Seruyan, dan daerah lain,” jelasnya.
Tidak hanya dihargai oleh masyarakat lokal saja, Kacapi buatan tangannya juga dihargai mahal oleh para turis mancanegara. Untuk Kacapi dengan ornamen yang tidak terlalu rumit, biasanya cuma dihargai Rp400 ribu per buah. Sedangkan Kacapi dengan kualitas terbaik dengan dihiasi berbagai ornamen ukiran khas Dayak, harganya bisa mencapai Rp1 juta per buah.
“Tapi sesudah adanya hak paten terhadap berbagai kesenian Dayak Kalteng ini, termasuk Kacapi, Mandau, dan lainnya beberapa tahun lalu. Sudah tidak ada lagi turis yang berani membeli dan dibawa pulang ke negara asalnya,” tukas Budiono.
Keterampilan seni pahatnya dalam menciptakan Kacapi berkualitas tinggi tersebut, memang tidak dimanfaatkan sebagai sumber penghasil utama. Karena dimasa tuanya kini, Budiono lebih banyak disibukkan dengan profesinya sebagai petani dan nelayan ikan tangkap sungai. Padahal jika mampu dimanfaatkan sebaik mungkin, serta dibarengi upaya promosi yang baik, bukan tidak mungkin akan banyak tawaran yang berdatangan. Sehingga mampu mendongkrak perekonomian keluarganya yang sedang sulit.
“Jarang juga ada orang yang datang ke rumah, minta kita buatkan kecapi. Karena biasanya pesanan melalui teman sesama seniman di Palangka Raya. Memang banyak Kecapi yang dijual di luar sana, tapi kualitas jelek. Suaranya pun tak indah yang kita buat,” terangnya.
Untuk menghasilkan Kacapi berkualitas tinggi, pilihan materialnya cuma ada tiga, yaitu menggunakan jenis kayu Pantung, Jelutung, atau Pelantan. Namun dirinya cenderung menggunakan Pantung, selain ringan dan mudah diolah. Kayu jenis ini juga mampu menghasilkan alunan suara Kacapi yang khas dan indah didengar. Agar kualitas tetap terjaga dan bertahan lama, maka Kacapi model ini tidak boleh basah atau disimpan di tempat yang lembab dalam waktu lama.
“Pembuatan maksimal membutuhkan waktu sekitar lima hari, pengecatan, ukiran, dan lain sebagainya. Kayu Pantung masih berlimpah di sini dan mencarinya juga tidak sulit. Ornamennya menggunakan pahatan berbentuk kepala Burung Tingang,” terangnya.
Secara fisik, Kacapi khas Katingan bentuknya lebih kecil dan memanjang. Keberadaan kepala Burung Tingang atau Enggang pada bagian ujungnya, merupakan suatu keharusan dalam setiap pembuatan Kacapi. Pasalnya, Tingang merupakan burung yang sangat disakralkan bagi suku Dayak. Sifatnya yang selalu terbang tinggi, dimaknai agar alunan suara Kacapi mampu bergema bagi penghuni seisi alam.
Dawai atau senar Kacapi sendiri, ujarnya, masih menggunakan bahan dari benang nilon sederhana. Pada zaman dahulu, senar Kacapi dibuat dengan memanfaatkan serat rotan atau kulit kayu jenis tertentu. Selain lebih kuat dan tahan lama, juga memiliki suara yang khas di telinga.
“Sepengetahuan saya, membuat Kacapi itu tidak mempunyai larangan. Contohnya Kacapi yang sering saya gunakan ini, sudah dimodifikasi agar bisa terhubung dengan alat pengeras suara. Artinya Kacapi model semi elekronik,” imbuhnya.
Berdasarkan penuturan secara turun temurun, katanya, Kayau dan Pulang merupakan kedua sosok yang dipercaya memperkenalkan alat musik Suling dan Kacapi bagi suku Dayak Ngaju di Katingan. Keduanya merupakan warga salah satu desa di Kecamatan Tasik Payawan Kabupaten Katingan.
“Yang saya dengar ceritanya seperti itu. Mereka mulai memperkenalkan alat musik ini sejak zaman penjajahan Belanda dulu,” kisahnya.
Selain dirinya, masih banyak musisi atau seniman musik tradisional lainnya di Kabupaten Katingan. Diantaranya almarhum Saer Suwa di Desa Tumbang Manggu Kecamatan Sanaman Mantikei. Gagas asal Desa Luwuk Kanan dan Cristian Desa Tumbang Panggu Kecamatan Tasik Payawan. Kemudian Jirin dan Budun dari Desa Telangkah Kecamatan Katingan Hilir. Lalu Yunatan, seniman kawakan asal Desa Tumbang Atei Kecamatan Katingan Tengah, dan masih banyak lainnya. Semuanya merupakan aktor seniman yang dikenal piawai memainkan alat musik Kacapi di Katingan.
Di zaman yang serba canggih ini, ungkap Budiono, masuknya budaya barat tak lagi bisa dibendung. Contoh terkecil di Desa Tumbang Liting, anak-anak muda lebih mengidolakan jenis musik aliran elekronik dance music (EDM), baik house music, remix, dan semacamnya. Secara tidak langsung, masyarakatnya sendiri mulai menyudutkan seni musik tradisional warisan leluhurnya.
“Kalau di sini, tidak cuma acara besar, acara hajatan kecil sekalipun sering diadakan acara musik live DJ (EDM). Yang saya takutkan itu, acara seperti ini biasanya akan dibarengi dengan mabuk-mabukan atau narkoba dan obat-obatan berbahaya,” keluhnya.
Parahnya lagi, jenis musik modern seperti itu tidak mempunyai kesamaan sama sekali dengan kebudayaan masyarakat lokal setempat. Dampaknya, membuat penikmat musik tradisional perlahan mulai ditinggalkan, terutama oleh anak-anak selaku generasi penerus.
“Itulah yang kadang membuat saya susah tidur, menjadi beban pikirannya selama ini. Anak saya sendiri sebenarnya cukup pandai Karungut, tapi malah malu saat diminta gurunya menunjukan keterampilan itu kepada teman-temannya di kelas,” keluhnya.
Kendati begitu, masih terdapat secercah harapan terhadap keberlangsungan tradisi seni musik tradisional ini. Karena segelintir anak-anak di desanya ternyata masih mau belajar dan mencoba melestarikan tradisi musik tradisional ini.
“Takutnya, kalau kami-kami ini sudah meninggal, maka siapa lagi yang akan melestarikannya. Otomatis tradisi memainkan Sanda Kayau, Karungut, Kacapi, Gandang Garantung akan hilang ditelan zaman,” sesalnya. (agg)