PALANGKA RAYA – Induk orangutan bersama anaknya terekam mengambil dan memakan bekal milik warga. Di lokasi berbeda, orangutan jantan bernama Pace ditemukan dengan luka pada kedua kaki di kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dua peristiwa ini menyoroti ancaman terhadap orangutan ketika habitatnya rusak dan sumber makanan alami berkurang. Satwa yang kesulitan mendapatkan makanan dan tempat berlindung berpotensi mendekati permukiman atau terjebak di kawasan yang terbakar.
Induk dan Anak Orangutan “Mencuri” Bekal Warga
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan seekor induk orangutan bersama anaknya memakan bekal milik warga. Informasi yang menyertai rekaman menyebut kemunculan orangutan di Kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan, serta Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan.
Hingga 17 Oktober 2026, tanggal asli perekaman dan lokasi pasti setiap video belum dapat dipastikan secara independen. Belum diketahui pula apakah seluruh rekaman menunjukkan peristiwa berbeda atau sebagian merupakan video lama yang kembali beredar.
Rekaman lain yang lebih dahulu beredar pada September memperlihatkan orangutan mengambil nasi langsung dari panci di sebuah pondok warga di Hanau. Video tersebut diunggah akun Instagram @folkkalteng.
Kehadiran orangutan di sekitar tempat tinggal manusia bukan sekadar persoalan satwa mengambil makanan. Situasi tersebut juga menunjukkan perlunya memeriksa kondisi habitat, ketersediaan pakan, dan kemungkinan konflik antara satwa liar dan masyarakat.
Pace Ditemukan Terluka di Pulang Pisau
Di Desa Tanjung Taruna, Kecamatan Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, orangutan jantan bernama Pace ditemukan dalam kondisi kedua kakinya terluka.
Pace diperkirakan berusia sekitar 20 tahun. Tim Wildlife Rescue Unit BKSDA Wilayah I bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng melakukan penyelamatan terhadap satwa tersebut.
Setelah dievakuasi, Pace dibawa ke kandang transit BOSF Nyaru Menteng untuk menjalani perawatan. Pemindahan ke habitat yang lebih aman direncanakan setelah dokter hewan menilai kondisinya memungkinkan.
Kepala BKSDA Kalimantan Tengah, Andi Muhammad Kadhafi menjelaskan, kondisi Pace menjadi bagian penting karena penyelamatan tidak berhenti ketika satwa berhasil dikeluarkan dari lokasi berbahaya.
“Perawatan, pemantauan kesehatan, dan penilaian kelayakan habitat tetap diperlukan sebelum orangutan dapat kembali hidup di alam liar,” terangnya.
Kehilangan sumber pakan menjadi perhatian
Gambaran mengenai sulitnya orangutan mendapatkan makanan terlihat dalam penyelamatan individu orangutan betina bernama, Ira, di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Ira, yang diperkirakan berusia sekitar 20 tahun, diselamatkan pada 14 Oktober 2026 dari kawasan hutan bekas terbakar di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 9, jalur Sampit-Kota Besi. Penyelamatan melibatkan BKSDA Kalimantan Tengah, Orangutan Foundation International (OFI), dan Komunitas Animal Rescue Sampit.
Dokter hewan OFI, drh. Ichlasul Khaerul, menjelaskan bahwa sumber makanan di sekitar lokasi penemuan Ira sangat terbatas.
“Kalau kita lihat kondisi lapangan, sumber makanan di situ sangat sedikit, bahkan bisa dibilang tidak ada,” ujar Ichlasul dalam keterangan mengenai penanganan Ira.
Pemeriksaan awal tidak menemukan tanda patah tulang maupun luka pada tubuh Ira. Meski demikian, pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan untuk menilai kondisi kesehatannya secara menyeluruh.
Temuan tersebut memberikan konteks penting bagi kemunculan orangutan di dekat aktivitas manusia. Ketika kawasan hutan kehilangan vegetasi dan sumber pakan, orangutan menghadapi tekanan untuk mencari makanan di tempat lain.
Empat Orangutan Diselamatkan di Kotim
Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, menyatakan bahwa empat individu orangutan telah diselamatkan selama Agustus hingga Oktober 2026. Mereka ditemukan di tiga lokasi berbeda di Kotim, termasuk induk dan anak yang ditemukan di Jalan Sawit Raya.
Menurut Muriansyah, seluruh orangutan tersebut ditemukan di kawasan bekas terbakar. Salah satu lokasi bahkan masih mengalami kebakaran ketika satwa ditemukan.
“Kondisi tersebut menunjukkan dampak karhutla terhadap kehidupan satwa liar. Kebakaran yang merusak habitat dapat membuat orang utan kehilangan tempat berlindung dan sumber pakan, sehingga berpotensi keluar dari kawasan hutan dan mendekati perkebunan maupun permukiman warga,” kata Muriansyah.
Jumlah empat individu tersebut merupakan catatan penyelamatan BKSDA Pos Sampit selama periode tiga bulan, bukan jumlah keseluruhan orangutan yang muncul di permukiman atau terdampak karhutla di Kalimantan Tengah.
Pembedaan ini penting agar rekaman di Seruyan, Barito Selatan, dan lokasi lain tidak dihitung sebagai kasus penyelamatan yang sama tanpa verifikasi.
Melindungi Satwa Sekaligus Mencegah Konflik
Kemunculan orangutan di permukiman perlu ditangani dengan mengutamakan keselamatan manusia dan satwa. Warga sebaiknya menjaga jarak, tidak mengerumuni atau mencoba menangkap orangutan, serta tidak memberikan makanan secara langsung tanpa arahan petugas.
“Jika menemukan orangutan di sekitar permukiman, kebun, atau kawasan bekas terbakar, warga dapat melaporkan lokasi dan kondisi satwa kepada BKSDA agar petugas dapat menentukan langkah penanganan yang tepat,” imbau Muriansyah.
Bagi orangutan, penyelamatan individu yang terdesak merupakan langkah darurat. Dalam jangka panjang, perlindungan habitat dan pemulihan sumber makanan alaminya tetap diperlukan agar satwa tidak terus menghadapi tekanan untuk mendekati ruang hidup manusia.(fah/*)

Komentar