PALANGKA RAYA – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut rencana penambahan sekitar 4-5 ekskavator dan kebutuhan sekitar 30 sumur bor untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Langkah tersebut diarahkan untuk memutus bagian depan rambatan api agar kebakaran tidak terus meluas.
Raja menyampaikan hal itu saat mengawal pengendalian karhutla di Taman Nasional Sebangau, Selasa (13/10/2026). Ia menjelaskan, penanganan tidak lagi hanya mengejar titik api yang sudah terbakar, tetapi berupaya memutus arah rambatan di bagian depan kebakaran.
“Kita akan ubah strategi penanganan karhutla. Putus kepala api, bukan sekadar mengejar,” ucap Raja Juli.
Dalam skema yang disampaikan, sumur bor direncanakan ditempatkan setiap 50 meter pada titik-titik kepala api. Kementerian Kehutanan menyebut kebutuhan tambahan sekitar 30 sumur bor, disertai kemungkinan penambahan empat hingga lima ekskavator untuk memperkuat penyekatan api.
Namun, ia belum merinci jadwal pemasangan sumur bor, lokasi pengerjaan secara spesifik, maupun waktu kedatangan dan pengoperasian seluruh alat berat tambahan tersebut.
Raja Juli juga mengakui beratnya dampak karhutla terhadap masyarakat. Menurutnya, warga Kalimantan Tengah telah terpapar asap selama sekitar tiga bulan. Ia menyatakan pemerintah pusat dan daerah memiliki empati terhadap warga terdampak serta akan bekerja lebih sungguh-sungguh dalam menangani kebakaran.
“Menurut kami kritik itu adalah vitamin, obat untuk memotivasi kami untuk bekerja lebih keras,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa pemadaman melalui udara menghadapi kendala jarak pandang. Helikopter untuk pengeboman air atau water bombing telah disiagakan, tetapi tidak dapat diterbangkan ketika kondisi jarak pandang belum memungkinkan. Operasi modifikasi cuaca tetap diupayakan ketika tersedia potensi awan yang dapat digunakan.
Kondisi tersebut membuat pemadaman melalui jalur darat dan penyekatan rambatan api menjadi bagian penting dari strategi penanganan. Pemerintah juga menekankan perlunya koordinasi antara petugas, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat untuk mencegah kebakaran meluas kembali.
Rencana penambahan alat berat dan sumur bor menjadi salah satu langkah konkret yang kini perlu ditindaklanjuti dengan kepastian pelaksanaan. Bagi warga yang telah berbulan-bulan menghadapi asap, efektivitas langkah tersebut akan ditentukan oleh seberapa cepat sarana tambahan tersedia dan mampu mengendalikan kebakaran di lapangan.(din/*)

Komentar