SUKAMARA – Dinas Kesehatan Kabupaten Sukamara mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada pekan pertama Oktober 2026, meski kenaikannya dinilai tidak signifikan. Di tengah kondisi karhutla yang berpotensi memengaruhi kualitas udara, pemerintah daerah tetap menyiapkan layanan kesehatan untuk masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukamara, Ari Junita, mengatakan kenaikan kasus pada awal Oktober tersebut masih relatif terbatas dibandingkan kondisi sebelumnya. “Ada peningkatan kasus, tetapi tidak signifikan,” kata Ari Junita pada Jumat (9/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa secara umum kasus ISPA di Sukamara cenderung melandai, walaupun masih menunjukkan peningkatan dibandingkan kondisi normal. Penilaian tersebut menjadi dasar untuk mempertahankan kewaspadaan sekaligus menyiapkan layanan bagi warga yang mengalami keluhan pernapasan.
Untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dukungan oksigen, Dinas Kesehatan Sukamara menyatakan Rumah Oksigen telah dibuka sejak awal September dan dapat diakses secara gratis. Ari menjelaskan bahwa layanan tersebut tersedia bagi masyarakat yang membutuhkan setelah melalui pemeriksaan tenaga kesehatan.
“Dibuka gratis untuk seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Layanan Rumah Oksigen juga dilaporkan tersedia di rumah sakit dan empat puskesmas selama 24 jam. Di luar layanan tersebut, masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh, menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk, serta mencari pertolongan medis jika mengalami keluhan pernapasan yang tidak membaik.
Data sebelumnya memberikan gambaran mengenai beban penyakit yang perlu dipantau. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sukamara, Achmad Yani, menyebut terdapat 437 kasus ISPA selama tiga pekan pertama September 2026. Pada Agustus 2026, jumlah yang dilaporkan mencapai 407 kasus.
Achmad Yani mengatakan pemantauan dilakukan secara berkala untuk mengikuti perkembangan kasus di tengah kondisi cuaca kering dan kabut asap.
“Kami lakukan rekap setiap minggu,” kata Achmad Yani.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar mengurangi paparan asap ketika kondisinya semakin tebal. “Menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar,” ujarnya.
Meski layanan kesehatan telah disiagakan, penilaian publik terhadap perkembangan ISPA akan lebih kuat jika disertai angka terbaru yang terukur. Keterangan Dinas Kesehatan belum mencantumkan jumlah kumulatif kasus untuk pekan pertama Oktober. Pembaruan angka per minggu, disertai sebaran kasus dan kelompok usia yang terdampak, diperlukan untuk mengetahui apakah kenaikan tetap terkendali atau membutuhkan tambahan layanan.(fit/*)

Komentar