PANGKALAN BUN – Kapal TB KSA 171 yang membawa 12 orang tenggelam di perairan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Rabu (9/9/2026) malam. Hingga Jumat (11/9/2026) pagi, enam orang telah ditemukan selamat, satu orang meninggal dunia, dan lima lainnya masih dalam pencarian Tim SAR Gabungan.
Informasi kecelakaan diterima Pos SAR Pangkalan Bun sekitar pukul 20.00 WIB. Kapal tersebut sebelumnya berangkat dari Banjarmasin menuju Merak.
Anggota Basarnas Pangkalan Bun Maulana Abdillah mengatakan enam orang telah ditemukan dalam keadaan selamat.
“Enam penumpang berhasil diselamatkan dalam kondisi selamat,” ujar Maulana Abdillah.
Enam penumpang yang ditemukan selamat masing-masing Suganda, Jurkasan, Fadla, Warkina, Durakin yang berperan sebagai koki, dan Casilo.
Satu korban meninggal dunia diketahui bernama Suhendi. Sementara lima korban lainnya belum diketahui identitasnya dan masih dicatat sebagai Mr. X dalam data operasi SAR.
“Sementara korban meninggal dunia diketahui bernama Suhendi,” kata Maulana.
“Adapun lima korban yang masih dalam pencarian belum diketahui identitasnya dan sementara masih tercatat sebagai Mr. X dalam data operasi SAR,” imbuhnya.
Tim SAR Gabungan kemudian melanjutkan pencarian menggunakan pola penyisiran di perairan sekitar Tanjung Puting. Unsur yang terlibat dalam operasi berasal dari Basarnas, TNI AL dan PMI.
Pencarian menghadapi kondisi laut yang cukup berat. Gelombang di sekitar lokasi dilaporkan mencapai lebih dari empat meter, sementara kondisi langit tertutup awan tebal. Asap karhutla di wilayah Kotawaringin Barat juga menjadi salah satu kondisi yang harus diperhitungkan selama operasi.
“Proses evakuasi terkendala cuaca, gelombang yang tinggi sampai 4 meter lebih, sudah ada peringatan dari rekan BMKG,” ujar Maulana.
Personel Basarnas yang dilibatkan terdiri atas lima anggota SRU air dan satu anggota SRU darat, dengan dukungan dua personel TNI AL serta dua personel PMI.
Hingga laporan perkembangan pada Kamis pagi, lima orang masih belum ditemukan. Tim SAR menyiapkan perluasan area pencarian berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan.
Status korban dan hasil pencarian dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, pembaruan resmi dari Tim SAR menjadi sumber utama untuk menentukan perkembangan berikutnya.(PB/*)

Komentar