NANGA BULIK – Keluhan warga soal terhentinya distribusi air bersih Perumda Tirta Lamandau di Nanga Bulik ramai diperbincangkan setelah persoalan tersebut disampaikan melalui media sosial Facebook.
Gangguan distribusi berkaitan dengan aktivitas menuba secara adat di Desa Bunut. Perumda menghentikan sementara penyaluran air sambil memastikan kualitas air dan menunggu hasil pemeriksaan sampel sebelum layanan dipulihkan.
Dalam unggahan yang beredar, warga menyoroti langsung dampak penghentian pasokan tersebut.
“Gegara manuba adat di Desa Bunut ni,” tulis warga dalam unggahannya.
Keluhan utama menyangkut layanan publik yang terganggu dan kebutuhan rumah tangga yang ikut terdampak.
“Air bersih PDAM di Nanga Bulik tidak bisa menyalurkan air bersih,” tulisnya.
Warga juga mempermasalahkan lamanya gangguan layanan yang mereka rasakan.
“Dalam waktu 2 atau 3 hari,” demikian bagian lain dari unggahan tersebut.
Perumda Tirta Lamandau kemudian melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah air telah aman kembali didistribusikan. Penghentian layanan dilakukan sebagai langkah kehati-hatian agar warga tidak menerima air yang kualitasnya belum dipastikan.
Gangguan tersebut berdampak pada puluhan ribu pelanggan di wilayah Nanga Bulik.
Kasus ini menarik perhatian karena mempertemukan dua kepentingan sekaligus. Tradisi masyarakat dan standar keamanan layanan air minum. Di sisi pemerintah daerah, pengujian kualitas air menjadi penentu sebelum distribusi dibuka kembali.
Peristiwa ini juga memperlihatkan bagaimana keluhan layanan publik kini cepat berpindah dari percakapan warga ke media sosial, lalu berkembang menjadi isu yang mendapat perhatian lebih luas.(NB/*)

Komentar