Selain itu, Gambut mampu mencegah pencampuran air asin di irigasi pertanian, dan meminimalisir kekeringan lahan. Pembukaan lahan gambut yang tidak sesuai kaidah-kaidah ilmiah dapat menyebabkan gambut cepat kering dan mudah terbakar.
“Daerah dengan kawasan gambut yang luas menjadi langganan kebakaran di musim kemarau yang panjang. Selain itu, lahan gambut juga kaya akan keanekaragaman hayati, baik satwa maupun tumbuhan,” tuturnya.
Lebih dalam, Prof. Yetrie, MP juga mengatakan bahwa masyarakat Dayak memanfaatkan berbagai macam keanekaragaman hayati tersebut sebagai sumber pangan (karbohidrat maupun protein), obat-obatan, dan kegiatan ritual.

Untuk tanaman obat-obatan saja misalnya, terdapat hampir 100 spesies yang saat ini sudah teridentifikasi manfaatnya berdasarkan penuturan masyarakat adat.
“Manfaat obat tersebut diantaranya untuk antidiabetes, antimikroba, antioksidan, antivirus, antibakteri, antiinflamasi, dan lain-lain,” katanya lagi.
Sebagian tanaman tumbuhan tersebut kini telah diketahui manfaatnya dan telah berhasil menjadikan beberapa rekan kami sebagai guru besar.
Namun, tidak hanya cukup sampai di sana, karena masih banyak yang perlu diteliti lebih lanjut. Khususnya, di daerah gambut dengan karakteristiknya yang unik, tempat masyarakat hidup.
“Kami memiliki tanggung jawab akademik untuk memahami lebih dalam seluk beluk ekosistem gambut yang unik tersebut agar pemanfaatannya oleh masyarakat maupun program-program pemerintah tidak menimbulkan kerusakan ekosistem yang berdampak sosial dan ekologis,” ujarnya lagi.