PANGKALAN BUN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengganggu konektivitas udara di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Sejumlah jadwal penerbangan NAM Air dibatalkan hingga 20 Oktober 2026, sementara pembatalan penerbangan Batik Air berlaku pada periode 16-17 Oktober.
Informasi pembatalan tersebut disampaikan pada Kamis malam, 15 Oktober 2026. Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Iskandar Pangkalan Bun, Asri Alie, membenarkan bahwa operasional penerbangan masih terkendala kabut asap.
“Betul, belum operasi karena kabut asap,” kata Asri Alie.
Kondisi tersebut diperkuat oleh data cuaca penerbangan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada pembaruan pukul 03.30 WIB, Jumat, 16 Oktober, Bandara Iskandar tercatat dalam kondisi berasap dengan jarak pandang 0,3 kilometer atau sekitar 300 meter.
Prakiraan per jam pada laman yang sama menunjukkan jarak pandang sekitar 0,5 kilometer hingga pukul 15.17 WIB. Angka prakiraan ini bukan kepastian kondisi aktual sepanjang hari, tetapi menunjukkan bahwa kendala visibilitas masih perlu diwaspadai.
Pembatalan tersebut tidak berarti seluruh operasional Bandara Iskandar otomatis dihentikan. Gangguan berlaku pada jadwal penerbangan tertentu sesuai keputusan masing-masing maskapai. Dalam keterangan sebelumnya pada 12 Oktober, Asri juga menjelaskan perbedaan antara penutupan bandara dan penghentian penerbangan oleh maskapai.
“Bukan bandara yang tutup. Namun, dua maskapai, Batik dan NAM Air, menginformasikan kepada kita untuk tidak terbang,” kata Asri saat menjelaskan gangguan penerbangan pada periode sebelumnya.
Untuk mengantisipasi perubahan perjalanan, penumpang diminta memastikan status penerbangan sebelum menuju bandara. Asri mengimbau calon penumpang yang telah membeli tiket untuk memeriksa informasi resmi maskapai karena jadwal dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi operasional.
Dampak karhutla terhadap penerbangan memperlihatkan bahwa persoalan asap tidak hanya menyangkut kebakaran dan kualitas udara. Gangguan tersebut juga memengaruhi mobilitas warga, perjalanan bisnis, dan konektivitas Pangkalan Bun dengan daerah lain.
Bagi calon penumpang, langkah terpenting adalah memeriksa status penerbangan langsung melalui maskapai. Status setiap penerbangan pada 16 Oktober perlu diperbarui melalui konfirmasi kepada pihak bandara dan maskapai, sebab jadwal pembatalan yang diumumkan tidak dapat dijadikan kesimpulan bahwa semua penerbangan hari itu batal.(fah/*)

Komentar