PALANGKA RAYA – Persoalan literasi di Kalimantan Tengah tidak semata-mata berkaitan dengan rendahnya minat baca. Di lapangan, masih ditemukan anak-anak yang tertarik membaca tetapi belum selalu memiliki akses terhadap bahan bacaan yang sesuai dan menarik.
Temuan itu muncul dalam kegiatan literasi yang digelar pegiat dan komunitas di sejumlah ruang publik Palangka Raya. Anak-anak terlihat mendatangi koleksi buku yang dibawa ke ruang terbuka, sementara sebagian lainnya memilih dan membaca buku yang tersedia.
Penggiat Literasi Kalteng Ricky Dwi Suhardi mengatakan kondisi itu menunjukkan persoalan literasi tidak tepat jika hanya diukur dari kemauan membaca.
“Minat membaca sebenarnya ada. Tantangannya adalah bagaimana bahan bacaan yang sesuai bisa lebih mudah dijangkau anak-anak,” ujar Ricky. Kamis, (17/9/2026).
Pemkot Palangka Raya sendiri tengah menggunakan Pemilihan Duta Baca 2026 sebagai salah satu sarana mendorong budaya membaca di kalangan anak muda.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Palangka Raya Yohn Benhur Gohan Pangaribuan mengatakan generasi muda memiliki posisi penting dalam menggerakkan kebiasaan membaca.
“Pemilihan Duta Baca menjadi salah satu sarana untuk mengkampanyekan pentingnya membaca sekaligus menghadirkan figur yang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat,” kata Benhur.
Ia juga mengatakan literasi perlu ditempatkan sebagai kebiasaan sehari-hari.
“Generasi muda adalah teladan yang dapat menginspirasi generasi lainnya,” ujarnya.
Sementara Perpustakaan Nasional pada momentum Hari Kunjung Perpustakaan 2026 menekankan pentingnya menghadirkan kegiatan literasi lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, bukan sekadar mengandalkan kunjungan ke gedung perpustakaan. (fit/*)

Komentar