PALANGKA RAYA – Antrean panjang pembelian Pertalite terjadi di sejumlah SPBU di Kalimantan Tengah pada September 2026. Pertamina menyebut peningkatan konsumsi setelah sebagian pengguna Pertamax beralih ke Pertalite menjadi salah satu faktor meningkatnya antrean.
Sales Area Manager Retail Pertamina Kalteng Donny Prasetya menyebut perpindahan konsumsi diperkirakan mencapai sekitar 7 persen di wilayah Kalteng setelah harga Pertamax meningkat.
Di sisi lain, DPRD Kalteng meminta persoalan pasokan dan distribusi dievaluasi. Ketua DPRD Kalteng Arton S Dohong mengatakan antrean paling mencolok terjadi pada Pertalite, bukan seluruh jenis BBM.
“Antrean panjang ini tidak terjadi pada semua jenis BBM, melainkan terpusat hanya pada Pertalite,” ujar Arton.
Menurut Arton, persoalan tersebut perlu dilihat dari kebutuhan riil masyarakat dan rantai distribusi sebelum kesimpulan lain dibuat.
Pertamina sendiri menyatakan penguatan pasokan dilakukan melalui Fuel Terminal Pulang Pisau dengan dukungan pengiriman dari Fuel Terminal Sampit dan Banjarmasin.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Edi Mangun mengatakan perusahaan meningkatkan persediaan untuk menjaga penyaluran ke SPBU.
“Kami meningkatkan persediaan BBM di Fuel Terminal Pulang Pisau,” ujarnya.
Pertamina juga menyebut kondisi kemarau, pasang surut perairan, serta kabut asap ikut memengaruhi distribusi melalui jalur sungai dan perjalanan mobil tangki.
“Keselamatan tetap menjadi prioritas,” kata Edi.
Pemerintah dan Pertamina kini menghadapi dua persoalan yang berlangsung bersamaan: kebutuhan Pertalite meningkat sementara kondisi distribusi tetap menghadapi kendala lapangan. (fit/*)

Komentar