Advertisement
Kalimantan Tengah
Beranda / Kalimantan Tengah / UPR Kembangkan Teknologi Busa Sabun untuk Pemadaman Karhutla

UPR Kembangkan Teknologi Busa Sabun untuk Pemadaman Karhutla

Peneliti Universitas Palangka Raya mengembangkan metode busa sebagai alternatif pemadaman karhutla.

PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mengkaji penggunaan busa berbahan sabun sebagai salah satu alternatif teknologi pemadaman karhutla setelah metode tersebut dikembangkan dan diuji oleh peneliti Universitas Palangka Raya.

Gagasan itu muncul di tengah kebutuhan mencari metode pemadaman yang lebih efektif menghadapi kebakaran pada lahan gambut yang sulit dikendalikan hanya dengan penyemprotan air.

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran mengatakan pemerintah belum menerapkan metode tersebut secara luas karena masih membutuhkan koordinasi, kesiapan peralatan dan penilaian lebih lanjut.

“Kita koordinasikan dulu. Kita cari dulu barang dan alatnya. Kemarin saya juga sudah melihat dan mencoba saat berkunjung ke UPR,” ujar Agustiar.

Menurut Agustiar, setiap inovasi penanganan karhutla perlu dilihat berdasarkan efektivitas dan kesesuaiannya dengan karakter lahan Kalteng.

Air Bersih Menipis, Warga Kapuas Harus Beli Air Rp5.000 per Galon

Metode tersebut menjadi salah satu alternatif yang menarik karena kebakaran di lahan gambut memiliki karakter berbeda dibandingkan kebakaran di permukaan tanah biasa. Api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul meski bagian atas terlihat telah padam.

Karena itu, keberhasilan teknologi tidak cukup diukur dari kemampuannya memadamkan api yang terlihat. Pemerintah juga perlu memastikan teknologi tersebut mampu mengatasi bara yang berada di lapisan gambut.

Peneliti UPR sebelumnya mengembangkan pemanfaatan busa sebagai bagian dari upaya menghadapi karakter kebakaran gambut. Pemerintah provinsi kini membuka ruang untuk melihat kemungkinan penerapannya di lapangan setelah melalui koordinasi dan pengujian.

Penggunaan teknologi baru juga akan membutuhkan perangkat pendukung dan pola operasi yang sesuai dengan kondisi lapangan.

Agustiar menegaskan langkah tersebut belum merupakan keputusan untuk menggantikan metode pemadaman yang sedang berjalan.

Udara Palangka Raya Masuk Kategori Beracun

Artinya, busa sabun masih berada pada tahap kajian dan pengembangan, sementara penanganan karhutla tetap mengandalkan operasi pemadaman yang sudah berjalan melalui tim darat dan berbagai unsur terkait.(fit/*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *