Advertisement
Edukasi & Ristek Nasional
Beranda / Nasional / Uban Bukan Tanda Tubuh Melawan Kanker, Pakar IPB Luruskan Mitos yang Beredar

Uban Bukan Tanda Tubuh Melawan Kanker, Pakar IPB Luruskan Mitos yang Beredar

ILUSTRASI/shutterstock.

JAKARTA – Rambut beruban bukan tanda bahwa tubuh sedang aktif melawan kanker. Anggapan yang belakangan beredar di media sosial itu dinilai keliru karena warna rambut tidak dapat digunakan untuk memperkirakan seseorang memiliki risiko kanker lebih rendah atau lebih tinggi.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Yenny Rachmawati, M.Biomed, menegaskan uban tidak memiliki fungsi sebagai indikator perlindungan terhadap kanker.

“Uban bukan berarti tubuh secara aktif melawan kanker,” kata Yenny, Senin (31/8/2026).

Menurut dia, munculnya anggapan tersebut berawal dari penelitian eksperimental terkait kerusakan DNA pada sel punca melanosit, yakni sel yang menghasilkan pigmen pada folikel rambut.

Dalam eksperimen pada tikus, kerusakan DNA dapat membawa sel punca melanosit ke jalur yang berbeda. Sebagian kehilangan fungsi dan menyebabkan rambut memutih, sementara dalam kondisi tertentu sel yang rusak dapat berkembang menjadi lesi yang berpotensi mengarah pada melanoma.

Gus Kikin Terpilih Jadi Ketua Umum PBNU 2026-2031, AHWA Putuskan Mufakat

Namun, hasil tersebut tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi kesimpulan bahwa orang yang cepat beruban lebih terlindungi dari kanker.

“Warna rambut tidak dapat digunakan sebagai penanda risiko kanker,” tegas Yenny.

Yenny menjelaskan, munculnya uban dipengaruhi sejumlah faktor. Usia dan genetika menjadi faktor utama, tetapi lingkungan serta gaya hidup juga dapat berperan.

Paparan polusi, kebiasaan merokok, stres oksidatif, hingga tekanan psikologis berat dapat berkaitan dengan percepatan proses pemutihan rambut.

Dalam kondisi tertentu, uban yang muncul terlalu dini juga dapat berkaitan dengan masalah lain seperti kekurangan vitamin B12, kekurangan zat besi, gangguan tiroid, atau penyakit autoimun.

DPRD Barito Selatan Desak Evaluasi Kenaikan Pajak dan Retribusi Daerah

Karena itu, rambut memutih semestinya tidak dijadikan alat untuk membaca risiko kanker seseorang.

Mitos semacam ini menjadi perhatian karena narasi sederhana di media sosial kerap mengubah hasil penelitian awal menjadi kesimpulan kesehatan yang terlalu jauh. Padahal, temuan laboratorium dan bukti epidemiologis pada manusia memiliki tingkat pembuktian berbeda.

Yenny menekankan belum ada bukti epidemiologis pada manusia yang menunjukkan orang yang cepat beruban memiliki risiko melanoma atau kanker lain yang lebih rendah.

Bagi masyarakat, pesan utamanya sederhana: uban adalah fenomena biologis yang umum, sementara penilaian risiko kanker tetap memerlukan faktor medis dan gaya hidup yang lebih komprehensif.(LF/*)

Utang Pengobatan Ibu Seret Pria di Lamandau dalam Perkara Sabu Empat Kilogram

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *