Pemenuhan Komoditas Pangan, Dorong Adanya Kerjasama Antar Daerah 

 Pemenuhan Komoditas Pangan, Dorong Adanya Kerjasama Antar Daerah 

FOTO : Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPW-BI) Provinsi Kalimantan Tengah, Yura Djalins.

Kaltengnews.co.id – PALANGKA RAYA – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPW-BI) Provinsi Kalimantan Tengah, Yura Djalins menyampaikan Bank Indonesia mendorong pemerintah daerah, untuk menjalin Kerjasama Antar Daerah (KAD) dalam rangka pemenuhan komoditas pangan yang mengalami defisit, sehingga pasokan dan stabilitas harga dapat terjaga.

Hal ini menyusul tingginya angka Inflasi tahunan di Provinsi Kalimantan Tengah, khususnya di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur yang mencapai 7,5 persen, sehingga hal ini menjadi perhatian dari sejumlah kalangan.

“Pemerintah daerah (Pemda) di Kalimantan Tengah, sedang berupaya untuk melakukan pengendalian Inflasi, salah satunya dengan mengoptimalkan anggaran yang dimiliki oleh Pemda. Dimana, melalui upaya tersebut diharapkan pula dapat menurunkan angka Inflasi di Kalteng pada akhir tahun ini, sehingga inflasi di Kalteng dapat kembali terkendali,” ucapnya, Kamis (15/09/2022).

Lanjut Yura menyebutkan inflasi tahunan di Kalimantan Tengah, pada bulan Agustus 2022 terpengaruh oleh beberapa hal, seperti kenaikan harga energi global akibat perang Rusia-Ukraina, gangguan mata rantai pasokan akibat COVID-19, serta keterbatasan pasokan akibat kondisi cuaca yang berdampak pada gangguan panen.

Komoditas penyumbang inflasi tahunan terbesar Kalteng ialah tarif air minum PAM, tarif angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, beras dan kue kering berminyak (gorengan).

Dari segi pangan bergejolak (volatile food), selain beras, minyak goreng, bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras dan ikan nila juga menjadi komoditas penyumbang inflasi. Namun demikian, berdasarkan pemantauan harga angkutan udara sudah mulai mengalami normalisasi.

Begitu pula halnya cabai rawit dan bawang merah seiring mulai masuknya musim panen pada sentra produksi di pulau Jawa. Beras juga diharapkan mulai memasuki musim panen pada September-Oktober termasuk pada sentra produksi di Kalteng.

“Inflasi perlu dijaga dengan besaran sesuai target sasaran nasional. Inflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya akan memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Diutarakannya, jika inflasi terlalu tinggi akan berdampak pada penurunan daya beli, khususnya bagi pekerja dengan penghasilan tetap.

“Bank Indonesia memperkirakan inflasi tahunan Kalteng akan kembali meningkat pada September 2022 seiring dengan kenaikan BBM Non Subsidi. Namun demikian, inflasi akan kembali menurun pada Oktober 2022 seiring dampak kenaikan tarif air minum PAM di Sampit yang akan ternormalisasi,” timpalnya.

Dalam rangka menjaga inflasi terkendali, Pemerintah daerah, baik provinsi, kota maupun kabupaten telah melakukan sinergi dengan Bank Indonesia melalui TPID untuk pengendalian inflasi khususnya di sektor pangan dengan program GNPIP (Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan), yang telah diluncurkan Bapak Gubernur Kalteng di Barito Selatan, berupa program GNPIP Sekuyan Lombok. Gerakan tersebut mendorong penanaman cabai oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan pasokan pada level rumah tangga.

Disamping itu, upaya respon cepat menghadapi inflasi juga telah dilakukan oleh TPID di masing-masing daerah melalui penyelenggaraan operasi pasar komoditas pangan bergejolak yang menjadi penyumbang inflasi antara lain beras, minyak goreng, bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras dan ikan nila, yang dilakukan sejak Agustus 2022 dan terus berlanjut pada September bahkan hingga akhir tahun secara berkala, guna menjaga daya beli masyarakat dan menahan kenaikan inflasi lebih jauh. (YS)

TONTON JUGA BERITA VISUAL LAINNYA di 

KALTENGNEWS TV

Yundhy Satrya ^ Kaltengnews.co.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *