FOTO: Dr. Fernando yang merupakan lulusan Kedelapan Doktor Ilmu Lingkungan dari Program Pascasarjana Universitas Palangka Raya.

Sandang Gelar Doktor Ilmu Lingkungan Jebolan PPS-UPR Kedelapan, Inilah Sosok Dr. Fernando

Kaltengnews.co.id – PALANGKA RAYA – Sidang Promosi Doktor Ilmu Lingkungan Kedelapan yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Universitas Palangka Raya (PPS-UPR) secara daring pada hari Rabu 7 April 2021, menjadi catatan bersejarah dalam perjalanan pendidikan, khususnya bagi Pria 44 Tahun Kelahiran Desa Bajuh, Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas pada tanggal 12 Oktober 1977 silam.

Yakni, Dialah sosok Dr. Fernando yang memiliki istri bernama Patlina dan sudah dikaruniai 2 (dua) orang anak, yakni Kasandra dan Bimo Setiawan ini memiliki sederetan riwayat pendidikan, diantaranya yakni Strata Satu (S1) di Jurusan Teknologi Sistem Hutan Institut Pertanian Yogyakarta, kemudian Strata Dua (S2) di Program Magister Manajemen Universitas Terbuka.

Berkat Kasih Karunia Tuhan, Pria yang selalu ramah dan rendah hati ini selanjutnya pada tahun 2016 lalu, kembali melanjutkan pendidikan di Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana Universitas Palangka Raya (PPS-UPR).

Sampai berhasil menuntaskan pendidikan tertinggi, pada tanggal 7 April 2021, sekaligus dinyatakan layak menyandang gelar Doktor Ilmu Lingkungan dengan perolehan nilai IPK 4,00, dengan Predikat Sangat Memuaskan, masa studi 9 Semester 3 Bulan atau 4 Tahun 3 Bulan.

FOTO: Dr. Fernando saat menjalani Sidang Promosi Doktor secara daring, Rabu (7/4/2021).

Adapun Disertasi yang berhasil dipertahankan di depan para Tim Penguji Sidang Promosi Doktor, ialah berjudul ‘Fluktuatif Pelepasan Karbondioksida Tumbuhan Obat Tradisional di Kota Palangka Raya’.

Selain itu, Dr. Fernando yang merupakan buah pasangan orang tua bapak Banteng Nyurung dan ibu Rusalie ini juga memiliki riwayat pekerjaan, yakni pada tahun 2006 lalu mengawali karirnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Murung Raya.

Kemudian, sejak tahun 2013 lalu sampai sekarang menjabat sebagai Sekretaris Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Murung Raya.

Saat berbincang santai, Dr. Fernando menerangkan bahwa memang tidak lah mudah untuk menyelesaikan pendidikan sampai jenjang tertinggi ini, Itu membutuhkan suatu tekad, kerja keras, semangat dan komitmen untuk menjalani seluruh tahapan pendidikan.

“Selain itu, dukungan dari pihak keluarga, terutama Istri Patlina dan Kedua orang anak Kasandra dan Bimo Setiawan menjadi hal yang sangat penting bagi saya, sebagai penguat motivasi untuk menyelesaikan studi,” ungkapnya, Rabu (7/4/2021).

Lebih dalam, Dr. Fernando juga mengatakan, tentunya kedepan, hasil pengetahuan yang didapat, akan terus dikembangkan, dan semoga bisa bermanfaat bagi masyarakat Kalimantan Tengah.

“Terutama dalam menjaga dan merawat kearifan lokal, khususnya manfaat obat tradisional yang terdapat di wilayah Kalimantan Tengah, terlebih di wilayah Kota Palangka Raya yang menjadi lokasi penelitian Disertasi,” katanya.

Secara singkat, Dr. Fernando menerangkan gambaran umum Disertasinya, dimana penelitian tumbuhan obat tradisional selama ini fokus pada manfaatnya sebagai obat, dan masih jarang penelitian mengarah ke fungsi lainnya dari tumbuhan obat tersebut.

Yang dimaksud dengan fungsi lainnya, yaitu sebagai tanaman hias, penghasil O2 saat proses fotosintesis dan pelepasan gas CO2 saat proses respirasi. Penelitian dan referensi mengenai pelepasan gas CO2 tumbuhan sudah banyak dilakukan terutama pada tingkat pohon. Namun, penelitian pelepasan gas CO2 pada tingkat anakan tumbuhan belum pernah dilakukan.

Untuk itu, penelitian mengenai kemampuan pelepasan gas CO2 tumbuhan obat tradisional masyarakat Suku Dayak Kota Palangka Raya sangat penting dilakukan, khususnya terkait dengan jumlah gas CO2 yang dilepaskan ke atmosfir pada saat proses respirasi.

Bertitik tolak dari permasalahan tersebut, sehingga melatarbelakangi dirinya untuk melakukan penelitian yang berjudul ‘Fluktuatif Pelepasan Karbondioksida (CO2) Tumbuhan Obat Tradisional Di Kota Palangka Raya’.

Berdasarkan studi literatur dan hasil wawancara dengan masyarakat asli suku Dayak pengguna maupun penjual tumbuhan obat tradisonal di Kota Palangka Raya yang juga berpotensi sebagai tumbuhan ruang terbuka hijau, maka dipilih 4 jenis yaitu Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.), Kantong Semar (Nepenthes mirabilis Druce.), Masisin/Kemunting (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk.), Karamunting/Senggani (Melastoma malabathricum D. Don).

Dimana, berdasarkan hasil penelitian dengan laju pelepasan CO2 paling rendah merekomendasi tumbuhan obat tradisional Karamunting/Senggani dan Kantong Semar menjadi rujukan kebijakan peraturan daerah baik kota/kabupaten maupun provinsi, dalam menekan emisi gas rumah kaca melalui ruang terbuka hijau di kota Palangka Raya.

“Saya sangat berharap, melalui hasil penelitian Disertasi ini, dapat memberikan kontribusi positif dalam pelestarian budaya, nilai-nilai kearifan lokal sekaligus pula menekan laju kerusakan lingkungan, akibat adanya emisi gas rumah kaca melalui penyediaan ruang terbuka hijau.” tutupnya. (YS)

TONTON JUGA BERITA VISUALNYA di
KALTENGNEWS TV

0 Reviews

Write a Review

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!