Pemprov Kalteng Lepas 14 Armada Bus untuk Program Mudik Gratis Idulfitri 1446 H
Dewan Provinsi Dorong Pemprov Kalteng Berikan Solusi atas Tingginya Harga Kacang Kedelai

FOTO: Ketua Komisi II DPRD Kalteng, membidangi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Lohing Simon.
Kaltengnews.co.id, PALANGKA RAYA – Tingginya harga kedelai di pasaran pada beberapa waktu belakangan ini, nampaknya tidak luput dari sorotan kalangan legislator DPRD Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Dimana, perhatian tersebut, datang dari Ketua Komisi II DPRD Kalteng, membidangi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Lohing Simon.
Lanjut Politisi dari Fraksi PDI-P Kalteng ini mengatakan, adanya kenaikan harga kacang kedelai, diharapkan tidak memberikan dampak berkepanjangan bagi masyarakat, khususnya bagi para pelaku usaha pembuatan tahu dan tempe di wilayah Bumi Tambun Bungai.
Dengan adanya kenaikan harga bahan dasar pembuatan tahu dan tempe belakangan ini, diharapkan tidak membawa dampak negatif, pada sektor usaha tersebut, khususnya para pengrajin pengolahan tahu dan tempe di wilayah Kalimantan Tengah.
“Kami mendorong, sekaligus meminta kepada pemerintah provinsi (Pemprov) Kalteng, melalui instansi teknis terkaitnya, agar dapat untuk memberikan solusi terhadap persoalan tersebut. Kami juga berharap, agar ketersediaan bahan pangan, baik itu jagung, kacang kedelai dan sejumlah komoditas lainnya, untuk dapat selalu terjaga ketersediaannya, supaya tidak terjadi kelangkaan dan lonjakan harga di pasaran,” Ucap Lohing, Selasa (12/1/2021).
Wakil Rakyat dapil Kalteng I, meliputi Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan dan Gunung Mas ini mengutarakan, dengan adanya program ketahanan pangan lanjutnya, yaitu Food estate diharapkan dapat menjadi program yang bermanfaat untuk Provinsi Kalteng secara menyeluruh.
Selain itu juga, melalui program Foos estate, DPRD Kalteng berharap, bahan pokok seperti Jagung, Padi, Singkong dan Kedelai dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga Kalteng.
“Secara umum, saya menilai, Kalteng memang belum siap untuk mengembangkan tanaman kedelai. Mengingat bahan dasar pembuatan tahu/tempe tersebut, sampai saat ini masih mendatangkan dari luar pulau. Kami harap ini dapat menjadi perhatian pemerintah kedepannya,” Kata Lohing menambahkan.
Sementara, untuk harga cabai yang turut mengalami kenaikan, Lohing menilai ditengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, seharusnya masyarakat harus lebih kreatif. Memanfaatkan pekarangan rumah untuk membudidayakannya. Jadi tidak terpaku dengan kenaikan harga dipasaran.
“Jika harga eceran tahu mengalami kenaikan di pasaran dari Rp.5000 menjadi Rp.6000 per 10 bijinya, saya rasa pengrajin tahu maupun tempe memiliki alasan. Kedelai sendiri saat ini dihargai Rp.9.550 perkilo, dimana sebelumnya hanya Rp.7.300 perkilo. Belum lagi mereka dikenakan biaya beberapa kali biaya pengiriman. Namun jika semua kembali normal, kami yakin para pengrajin juga akan ikut menurunkan harga ecerannya,” Pungkas Lohing Simon. (YS)
TONTON JUGA BERITA VISUALNYA di
KALTENGNEWS TV